KAJIAN
PROSA FIKSI CERPEN BUKIT CAHAYA
KARYA
YANUSA NUGROHO
(Tinjauan
Struktural A. J. Greimas dan Intertekstual)
Laporan
diajukan
untuk Memenuhi Salahsatu Tugas Semester Ganjil Matakuliah Kajian Prosa Fiksi
dari Dosen Pengampu Halimah, M.Pd.
Disusun
oleh
Yuyun
Yulyanti (1305344)
Kelas
DIK-A 2013
DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA DAN
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2014
PENDAHULUAN
Istilah
kajian atau pengkajian yang digunakan menunjuk pada pengertian penelaahan.
Istilah tersebut berkaitan dengan mengkaji, menelaah, atau meneliti. Pengkajian
terhadap sebuah teks fiksi berarti penelaahan, penelitian, atau mengkaji,
menelaah, meneliti teks fiksi tersebut. Karya sastra khususnya cerpen dibangun
dari sejumlah unsur, dan setiap unsur saling berhubungan, saling menentukan,
dan saling memengaruhi yang menyebabkan cerpen tersebut menjadi karya yang
bermakna. Kegiatan analisis cerpen ini dapat menjelaskan peranan masing-masing
unsur dan keterkaitan antar unsur-unsurnya. Analisis ini juga untuk memberikan
penilaian secara objektif berdasarkan hal-hal yang yang ditemukan pada teks.
Selain itu, tujuan analisis fiksi ini adalah untuk dapat memahami secara lebih
baik karya sastra yang bersangkutan.
Pendekatan
objektif menekankan kajian langsung terhadap teks sastra, teks sastra sebagai
objek utama kajian. Pendekatan yang dimaksud diantaranya pendekatan
srtukturalisme, semiotik, intertekstual, feminisme, psikoanalisis,
dekonstruksi, pascakolonial, dan lain-lain.
Penulis
akan menganalisis karya sastra berupa cerpen karya Yanusa Nugroho yang berjudul
Bukit Cahaya dengan pendekatan
Struktural A. J. Greimas dan pendekatan
Intertekstual.
KAJIAN STRUKTURAL A. J. GREIMAS
CERPEN BUKIT CAHAYA KARYA YANUSA NUGROHO
A. SINOPSIS
Tokoh
Aku adalah seseorang yang sangat percaya dengan keberadaan sebuah bukit, bukit
cahaya namanya. Kisah tentang bukit cahaya didapatkanya dari banyak orang,
seperti pada media sosial, saat perjalanan pulang kantor, dan ketika keluar
kota untuk urusan kantor. Potongan-potongan kisah tentang bukit cahaya tersebut
seperti puzzle yang harus disatukan
oleh tokoh Aku.
Seorang dalang bernama Mas Tri
Luwih, mengatakan bahwa bukit cahaya adalah serpihan Taman Sriewdari ketika
dipindahkan oleh Sokrasana yang dimintai oleh kakaknya untuk memindahkan tamana
milik Batara Wisnu sebagai persyaratan, sehingga serpihan Taman Sriwedari itu
menjelma bukit cahaya. Akan tetapi, lain
lagi dengan cerita yang disampaikan oleh Gus Rony, teman dari tokoh Aku,
sesama penggemar kopi pahit. Menurutnya, bukit cahaya tidak setiap saat dapat
memancarkan cahaya hanya pada malam ketujuh, di bulan ketujuh, hanya setahun
sekali. Kisah tentang bukit cahaya yang didapatkan tokoh Aku tersebut tanpa
sumber yang jelas.
Mendengar kisah tentang bukit cahaya
tersebut, tokoh Aku semakin memiliki keinginan yang sangat kuat untuk
menyaksikan secara langsung bukit cahaya itu walau pun semakin banyak pula yang
mengejek keinginan tokoh Aku. Teman-temanya mengatakan bahwa tokoh Aku lebih
percaya pada dunia maya dari pada dunia nyata, ia dikatakan sebagai orang yang
pemimpi ingin melihat bukit cahaya tersebut. Tokoh Aku haya bisa diam
menanggapi ejekan dari teman-temanya tersebut, meskipun tokoh Aku menyadari
bahwa bukit cahaya hanyalah sebuh dongeng, tetapi ada kepercayaan kuat dalam
dirinya tentang keberadaan bukit cahaya.
Keyakinan yang kuat tersebut membuat
tokoh Aku mengajukan cuti di awal bulan Juli untuk pergi ke bukit cahaya
tepatnya di Dusun Galihkangkung. Tokoh Aku mengatakan bahwa tempat tersebut
belum terpetakan di Indonesia dan Bos tokoh Aku memberitahukan kepada
teman-teman kantor lainnya bahwa tokoh Aku akan pergi ke tempat yang belum
terpetakan di Indonesia, seisi ruangan kantor tersebut pun menertawakan tokoh
Aku. Tokoh Aku hanya bisa diam saja, mereka hanya percaya pada kecanggihan
teknologi tidak percaya lagi dengan logika yang berarti sebatok kepala kita sendiri. Mereka tidak mempercayai keindahan,
namun lebih percaya pada perhitungan logika. Mereka tak bisa lagi bercanda atau
senda gurau antarsesama manusia, lantaran jauh dalam diri mereka hanya ada rasa
curiga dan buruk sangka. Semua unsur kehidupan didasarkan pada untung rugi
secara sempit. Mereka bukan lagi pengikut para nabi, meski pun dari mulut mereka membusa ayat-ayat Tuhan,
tetapi mereke menyembah uang yang menurut mereka lebih nyata daripada Tuhan.
Akhirnya, tokoh Aku berada di Galihkangkung
dengan keadaan yang begitu damai. Entah bagaimana tokoh Aku bisa sampai di
tempat ini diraskan sebagi sesuatu yang aneh. Melalui tokoh Gusti Purusa yang
memberitahu bahwa ada kerabatnya di sana, Pak Har namanya. Semua ini terjadi
begitu saja.
Tokoh Aku menyaksikan bukit cahaya
itu dari tepi laut di Teluk Galihkangkung ditemani oleh tokoh Pak Har dan
beberapa orang lainnya. Beberapa saat kemudian, di bukit yang semula
samar-samar berubah menyala kuning kemerahan. Cahaya yang menjulang, membukit,
terang benderang, membawa tokoh Aku melayang.
Cahaya itu membuat kedamaian dalam dirinya, cahay itu membersihkan
seluruh jiwanya dan meneranginya dengan klembutan, air matanya mengalir
menyaksikan keindahan yang belum pernah dilihat sebelumnya. Tiba-tiba, Tokoh
Aku tergagap bangun dari mimpinya tersebut, baginya, itu adalah seseuatu yang
dianggapnya benar.
B. ANALISIS ASPEK SINTAKSIS
1.
Analisis Alur Berdasarkan Skema Aktan dan Analisis Pengaluran Berdasarkan Model
Fungsional
a.
Skema Aktan Utama
|
Kisah tentang bukit cahaya yang
didapatkan dari teman-temannya (pengirim)
|
|
Bukit Cahaya
(objek)
|
|
Keyakinan kuat
Tokoh Aku, pengambilan cuti kerja, teman-temannya seperti, Mas Tri Luwih,
Gus Rony, Gusti Purusa, Pak Har (penolong/pembantu)
|
|
Tokoh Aku
(subjek)
|
|
Ejekan dari teman
dan bos di kantornya, tempat Galihkangkung yang belum terpetakan di
Indonesia, dan kisah bukit cahaya hanya sebuah dongeng (penentang)
|
|
Tokoh Aku
(penerima)
|
Pengaluran
Model Fungsional Utama
|
Situasi
awal
|
|
Transformasi
|
|
Situasi
Akhir
|
|
|
Tahap
Uji Kecakapan
|
Tahap
Utama
|
Tahap
Keberhasilan
|
|
|
Adanya
keinginan yang kuat dan kepercayaan dari tokoh Aku untuk melihat bukit cahaya
melalui kisah-kisah yang didapatkannya
|
Upaya
untuk membuktikan keberadaan bukit cahaya melalui kisah yang didengarnya dari
teman (Mas Tri Luwih dan Gus Rony), memutuskan untuk mengambil cuti kerja dan
diejek oleh teman dan bosnya karena dianggap terlalu mengada-ada.
|
Memutuskan
pergi ke Dusun Galihkangkung untuk mengunjungi bukit cahay. Tokoh Gusti
Purusa dan Pak Har membantu tokoh Aku untuk sampai ke bukit cahaya
|
Tokoh
Aku menyaksikan bukit cahaya secara langsung
|
Keberadaanya
di bukit cahaya tersebut hanyalah sebuah mimpi tidur dari tokoh Aku yang ia
yakini sebagi sebuha kebenaran tentang keberadaan bukit cahaya
|
Penjelasan:
Cerita
berawal dari kisah-kisah tentang bukit cahaya yang didapatkan oleh tokoh Aku
dari teman-temanya, walaupun cerita yang ia dapatkan hanya sebuah dongeng
tetapi tokoh Aku mempercayai keberadaan bukit cahaya, tepatnya di Dusun
Galihkangkung yang belum terpetakan di Indonesia dan hal itu yang membuat ia diejek
oleh teman-teman dan bos di kantor tempat kerjanya hingga tokoh Aku mengambil
cuti dari kerjanya untuk mengunjungi bukit cahaya tersebut. Untuk mencapai
bukit cahaya tokoh Aku mendapat bantuan dari Mas Tri Luwih dan Gus Rony yang
menceritakan tentang bukit cahaya, sedangkan Gusti Purusa dan Pak Har sebagi
tokoh yang membantu perjalanan tokoh Aku untuk sampai di bukit cahaya. Akhirnya,
tokoh Aku bia melihat bukit cahaya tersebut walau pun dalam mimpinya yang ia
yakini sebagi sebuah kebenaran tentang keberadaan bukit cahaya tersebut.
b.
Skema Aktan Bawahan 1
|
Kisah bukit cahaya dari
teman-temannya (pengirim)
|
|
Bukit Cahaya
(objek)
|
|
Tokoh Aku
(penerima)
|
|
Pengambilan cuti
kerja kantornya (penolong/pembantu)
|
|
Tokoh Aku
(subjek)
|
|
kisah bukit
cahaya hanya sebuah dongeng (penentang)
|
Pengaluran
Model Fungsional Bawahan 1
|
Situasi
awal
|
|
Transformasi
|
|
Situasi
Akhir
|
|
|
Tahap
Uji Kecakapan
|
Tahap
Utama
|
Tahap
Keberhasilan
|
|
|
Upaya
untuk membuktikan keberadaan bukit cahaya melalui kisah yang didengarnya dari
teman (Mas Tri Luewih dan Gus Rony)
|
Upaya
untuk mengambil cuti kerja dan diejek oleh teman dan bosnya karena dianggap
terlalu mengada-ada.
|
Tokoh
Aku tidak menghiraukan ejekan yang diberikan orang lain
|
Membulatkan
tekad untuk pergi ke bukit cahaya
|
Tokoh
Aku menyadari bahwa kisah yang didapatkannya hanyalah sebuah dongeng
|
Penjelasan:
Kisah
yang diketahui oleh tokoh Aku melalui penuturan teman-temanya, seperti Mas Tri
Luwih dan Gus Rony membuat keyakinan yang begitu kuat dalam tokoh Aku tentang
adanya bukit cahaya, walau pun tokoh Aku menyadari bahwa kisah yang didengarnya
itu hanyalah sebuah dongeng.
c.
Skema Aktan Bawahan 2
|
Kisah bukit cahaya yang didengar
tokoh Aku (pengirim)
|
|
Bukit Cahaya
(objek)
|
|
Tokoh Aku
(penerima)
|
|
Keyakinan kuat
Tokoh Aku, teman-temannya seperti, Mas Tri Luwih, Gus Rony yang
menceritakan bukit cahaya (penolong/pembantu)
|
|
Tokoh Aku
(subjek)
|
|
Ejekan dari teman
dan bos di kantornya, tempat Galihkangkung yang belum terpetakan di
Indonesia , dan ketidakpercayaan tokoh lain terhadap tokoh Aku tentang
keberadaan bukit cahaya(penentang)
|
Pengaluran
Model Fungsional Bawahan 2
|
Situasi
awal
|
|
Transformasi
|
|
Situasi
Akhir
|
|
|
Tahap
Uji Kecakapan
|
Tahap
Utama
|
Tahap
Keberhasilan
|
|
|
Upaya
untuk membuktikan keberadaan bukit cahaya melalui kisah yang didengarnya
|
Tokoh
Aku tidak menghiraukan ejekan yang diberikan orang lain
|
Keyakinan
yang kuat dari tokoh Aku tentang bukit cahaya
|
Membulatkan
tekad untuk pergi ke Dusun Galihkangkung
|
Tokoh
Aku menyadari bahwa Dusun Galihkangkung belum terpetakan
|
Penjelasan:
Berdasarkan
kisah yang didengarnya pula tokoh Aku memiliki niat untuk mengambil cuti dari
pekerjaannya di kantor demi mewujudkan keinginannya pergi ke bukit cahaya di
daerah Galihkangkung yang belum terpetakan di Indonesia, hal ini yang membuat tokoh
Aku diejek oleh teman-teman dan bosnya di kantor, mereka semua tidak percaya
perihal keberadaan bukit cahaya tersebut.
d.
Skema Aktan Bawahan 3
|
Keberadaan bukit cahaya di Dusun
Galihkangkung (pengirim)
|
|
Bukit Cahaya
(objek)
|
|
Tokoh Aku
(penerima)
|
|
Perginya tokoh
Aku ke Galihkangkung melalui bantuan Gusti Purusa dan Pak Har
(penolong/pembantu)
|
|
Tokoh Aku
(subjek)
|
|
Bukit dapat
bercahaya hanya satu tahun sekali (penentang)
|
Pengaluran
Model Fungsional Bawahan 3
|
Situasi
awal
|
|
Transformasi
|
|
Situasi
Akhir
|
|
|
Tahap
Uji Kecakapan
|
Tahap
Utama
|
Tahap
Keberhasilan
|
|
|
Keberangkatan
tokoh Aku ke Dusun Galihkangkung
|
Tokoh
Aku mendapatkan bantuan dari tokoh Gusti Purusa dan Pak Har untuk sampai ke
Dusun Galihkangkung
|
Keyakinan
yang kuat dari tokoh Aku tentang bukit cahaya walau pun hanya satu tahun
sekali
|
Tokoh
Aku berhasil ke Dusun Galihkangkung
|
Tokoh
Aku
berada
di bukit cahaya
|
Penjelasan:
Kepergian
tokoh Aku menuju bukit cahaya melewati Dusun Galihkangkung dengan bantuan Gusti
Purusa dan Pak Har sebagai tuan rumah di Dusun Galihkangkung yang mengantarkan
tokoh Aku ke bukit cahaya. Akan tetapi, bukit tersebut tidak selamanya
bercahaya melainkan hanya satu tahun sekali.
e.
Skema Aktan Bawahan 4
|
Mimpi berada di bukit cahaya
(pengirim)
|
|
Melihat langsung
Bukit Cahaya (objek)
|
|
Tokoh Aku
(penerima)
|
|
Pak Har
(penolong/pembantu)
|
|
Tokoh Aku
(subjek)
|
|
Istri tokoh Aku
(penentang)
|
Pengaluran
Model Fungsional Bawahan 4
|
Situasi
awal
|
|
Transformasi
|
|
Situasi
Akhir
|
|
|
Tahap
Uji Kecakapan
|
Tahap
Utama
|
Tahap
Keberhasilan
|
|
|
Tokoh
Aku
berada
di bukit cahaya
|
Tokoh
Aku harus menunggu beberapa saat untuk menyaksikan bukit tersebut dapat
bercahaya
|
Menyaksikan
bukit tersebut bercahaya
|
Tokoh
Aku berhasil mewujudkan keinginannya dan berhasil membuktikan kebenaran yang
selama ini ia yakini
|
Tokoh
Aku
terbangun
dari mimpinya tersebut
|
Penjelasan:
Akhirnya,
tokoh Aku berhasil melihat bukit bercahaya itu melalui bantuan Pak Har, namun
saat ia sedang menyaksikan keindahan tersebut, Istri tokoh Aku membangunkan
dari tidurnya, karena semua itu hanyalah mimpi tokoh Aku walau pun tokoh Aku
tetap mempercayai bahwa ia telah berhasil menemukan bukit cahaya yang menurut
orang lain itu hanya sebuah dongeng.
C. ANALISIS ASPEK SEMANTIS
1. Analisis Tokoh
·
Tokoh Aku
·
Mas Tri Luwih
·
Gus Rony
·
Bos
·
Teman-teman kantor
·
Gusti Purusa
·
Pak Har
·
Istri tokoh Aku
Rincian Tokoh:
1. Tokoh
Aku sebagai tokoh utama yang berperan sebagai tokoh protagonis, termasuk dalam
tokoh kompleks/ berwatak bulat yang memiliki kayakinan yang kuat untuk
memperoleh sesuatu yang diinginkannya, keras kepala, tidak mudah menyerah, dan
tak acuh dengan perkataan orang lain.
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Sosiologis: seorang suami yang bekerja
di sebuah kantor dalam bidang ekonomi dan sebagai penggemar kopi pahit
-
Psikologis: memiliki keyakinan kuat
untuk mendapatkan sesuatu, tidak mudah menyerah, dan tidak peduli dengan orang
yang mengejeknya
Penokohan
tokoh Aku diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Aku
harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Sebuah
kesejukan yang yang tulus dan murni, lewat penuturan Mas Tri Luwih, teman
sesama penggemar kopi pahit.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Dan
kian kuat keinginanku untuk menyaksikan sendiri bukit cahaya itu, kian kuat
pula ejekan menerjangku.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Aku
diam saja. Ya, aku sendiri heran mengapa keinginan untuk melihat sendiri bukit
cahaya itu begitu kuat; sementara diam-diam aku sendiri tahu persis bahwa itu
hanyalah dongeng. Ada semacam kekuatan yang saling menarik, yang tengah terjadi
pada diriku.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Kuumumkan
bahwa tekadku bulat sudah. Aku mengajukan cuti khusus nanti di awal bulan
Juli.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Tapi,
mungkin, itu semua yang memebuatku diam-diam membulatkan tekad mencari dan
melihat sendiri bukit cahay itu. Sesuatu yang memberiku kekuatan untuk mencari
sumber ketenangan hidup. Ya, barangkali itu.” (Nugroho, 2014, hlm. 3)
Namun,
adapula yang ditampilkan melalui ucapan-ucapan tokoh (metode dramatik),
“Ada
yang mengatakan bahwa seharusnya aku masuk jurusan ilmu klenik saja dan bukan
masuk ekonomi.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
2. Mas
Tri Luwih sebagai tokoh bawaan atau tokoh pendamping termasuk dalam tokoh
sederhana yang memiliki pengetahuan lebih tentang pewayangan
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Sosiologis: seorang dalang
-
Psikologis: memiliki pengetahuan tentang
pewayangan dan sebagai penggemar kopi pahit
Penokohan
Mas Tri Luwih diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Kata
nenek saya, dulu, bukit itu adalah serpihan Taman Sriwedari, ketika
dipindahakan oleh Sokrasana,” ucap Mas Tri Luwih, seorang dalang. Aku kagum.
(Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Tapi,
itu miturut, simbah saya, lho, Mas. Jadi, ketika itu, kan, Sokrasana dimintai
tolong kakaknya untuk memindahkan taman milik Batara Wisnu itu, sebagai
persyaratan... ah, sampean tahu, kan, kisahnya, he-he-he. Nah, ketika dibawa
terbang, ada segenggam tanah yang jatuh.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
Namun,
adapula yang ditampilkan melalui ucapan-ucapan tokoh (metode dramatik),
“Sebuah
kesejukan yang yang tulus dan murni, lewat penuturan Mas Tri Luwih, teman
sesama penggemar kopi pahit.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
3. Gus
Rony sebagai tokoh bawaan atau tokoh pendamping termasuk dalam tokoh sederhana
yang memiliki pengetahuan tentang bukit cahaya
Dimensi
tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Sosiologis: teman tokoh Aku
-
Psikologis: memiliki pengetahuan tentang
bukit cahaya dan sebagai penggemar kopi pahit
Penokohan
Gus Rony diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Lain
lagi potongan kisah yang datang dari Gus Rony, juga termasuk teman sesama
penggemar kopi pahit. Menurutnya, dari yang dia dengar, tidak setiap saat bukit
itu memendarkan cahaya. Hanya pada malam ketujuh bulan ketujuh.” (Nugroho,
2014, hlm. 1)
“Lho,
kan, saya bilang tadi, kata si empunya cerita...haha-ha-ha-ha-ha....” kemudian
dia menyeruput kopi hitamnya yang tanpa gula itu.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
4.
Bos sebagai tokoh antagonis yang memiliki sifat tidak percaya dengan pendapat
orang lain dan memiliki sifat suka meremehkan orang lain
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Sosiologis: seorang yang menjabat
sebagai bos di kantor tempat tokoh Aku bekerja
-
Psikologis: tidak percaya dengan
pendapat orang lain, memiliki sifat suka meremehkan orang lain
Penokohan
Bos diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode diskursif),
“Bosku,
yang selama ini hanya tersenyum, kali ini menatapku dalam-dalam.” (Nugroho,
2014, hlm. 2)
“Bosku
kemudian tertawa terbahak-bahak. Tak lama dia berkata dengan lantang, memberi
tahu seisi ruangan bahwa ada sebuah tempat namanya Galihkangkung dan itu belum
terpetakan di Indonesia. Kau tentu bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi
di ruangan besar itu.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
5.
Teman-teman kantor sebagai tokoh antagonis yang memiliki sifat tidak percaya
dengan pendapat orang lain dan memiliki sifat suka mengejek orang lain.
Dimensi tokoh
-
Sosiologis: teman kantor tokoh Aku
-
Psikologis: tidak percaya dengan
pendapat orang lain, memiliki sifat suka mengejek orang lain
Penokohan
Teman-teman kantor diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Ada
yang mengatakan bahwa seharusnya aku masuk jurusan ilmu klenik saja dan bukan
msuk ekonomi. Ada yang meledek bahwa aku lebih percaya pada yang maya ketimbang
yang nyata, dan entah apa lagi.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
Namun,
adapula yang ditampilkan melalui ucapan-ucapan tokoh (metode dramatik),
“Emang
kamu itu si Milo? Itu, yang di film Journey to the Bottom of the World?
he-he-he.... Tuh, lihat di jalanan buruh semua demo, minta kenaikan UMR. Tuh,
ada gubernur cantik dandanannya satu miliar. Itu kenyataan. Gak usah sok mimpi
mau lihat bukit bercahaya segala.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
6.
Gusti Purusa sebagai tokoh bawaan atau tokoh pendamping termasuk dalam tokoh
sederhana yang memiliki sifat baik
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Psikologis: memiliki sifat yang baik
Penokohan
Gusti Purusa diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Entah
bagaiman, Gusti Purusa-dia memang bernama Gusti-memberitahu bahwa ada salah
satu kerabatnya di Galihkangkung.” (Nugroho, 2014, hlm. 3)
7.
Pak Har sebagai tokoh bawaan atau tokoh pendamping termasuk dalam tokoh
sederhana yang memiliki sifat baik
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang laki-laki
-
Psikologis: memiliki sifat yang baik
(menjadi tuan rumah di Galihkangkung)
Penokohan
Pak Har diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode
diskursif),
“Nanti
malam, Mas. Menjelang jam sebelas, kita jalan sampai tepian teluk, “ ujar Pak
Har, si tuan rumah.” (Nugroho, 2014, hlm. 3)
8.
Istri sebagai tokoh pendamping termasuk dalam tokoh sederhana yang memiliki
sifat baik
Dimensi tokoh
-
Fisiologis: seorang perempuan
-
Psikologis: istri tokoh Aku
Penokohan
Istri diceritakan melalui penerangan langsung dalam cerita (metode diskursif),
“Aku
tergagap bangun karena guncangan tangan istriku.”
“Mimpi
apa, kok sampai nangis sambil tertawa-tawa?” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
Dari
uraian tokoh tersebut, kita dapat mengetahui watak tokoh-tokoh dalam cerita, keyakinan
kuat yang dimiliki tokoh Aku menjadi penggerak cerita ini, sampai pada akhirnya
tokoh Aku bisa melihat langsung bukit cahaya. Oleh karena itu, kita patut
mencontoh sifat baik yang dimiliki oleh tokoh Aku pada cerita dalam hidup ini untuk menggapai mimpi
dan keinginan kita. Melalui tokoh Bos dan Teman-teman kantor kita dapat
mengambil pelajaran untuk tidak meremehkan orang lain, tidak mengejek pendapat
dan pemikiran orang lain terhadap suatu hal.
2. Analisis Latar
· Latar
Tempat: di kantor, dusun Galihkangkung, teluk Galihkangkung, di gubuk-gubuk
kecil, di rumah tokoh Aku, bukit cahaya
· Latar
Waktu: awal bulan Juli, malam hari, menjelang jam sebelas
· Latar
Sosial: kantor, perkampungan/dusun
Cerita
tersebut terjadi pada masa sekarang ini dengan pekerjaan para tokoh pada sebuah
kantor. Akan tetapi, pertengahan sampai akhir cerita betempat di pedesaan,
dusun Galihkangnkung dan di bukit cahaya,
“Lain
lagi potongan kisah yang datang dari Gus Rony, juga termasuk teman sesama
penggemar kopi pahit. Menurutnya, dari yang dia dengar, tidak setiap saat bukit
itu memendarkan cahaya. Hanya pada malam ketujuh bulan ketujuh.” (Nugroho,
2014, hlm. 1)
“Kuumumkan
bahwa tekadku bulat sudah. Aku mengajukan cuti khusus nanti di awal bulan
Juli.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Bosku
kemudian tertawa terbahak-bahak. Tak lama dia berkata dengan lantang, memberi
tahu seisi ruangan bahwa ada sebuah tempat namanya Galihkangkung dan itu belum
terpetakan di Indonesia. Kau tentu bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi
di ruangan besar itu.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Telah
kususuri jalanku, dan aku berada di Galihkangkung. Suasana begitu lengang.
Angin benar-benar seperti senyuman malu-malu seorang gadis yang kau jumpai di
jalan. Jalanan kecil, tanah hitam padat, bersih. Orang-orang yang berjalan
menggiring kerbau, mungkin ke pasar, mungkin ke sawah, bisa dengan mudah kau
jimpai. Mereka tidak memandangku sebagi orang aneh, meski pun bagaimama aku
bisa sampai di tempat ini kurasakan sebagi sesuatu yang aneh.” (Nugroho, 2014,
hlm. 3)
“Nanti
malam, Mas. Menjelang jam sebelas, kita jalan sampai ke tepian teluk,”
(Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Ya.
Di teluk itu ada bebrapa pulau kecil berbukit-bukit, nah salah satunya itulah
yang nanti akan kita lihat bercahaya.” (Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Aku
menyaksikan kelam di kejauhan. Dembur ombak dan angin asin menyapaku dari laut
di Teluk Galihkangkung. Di gubuk-gubuk kecil ini kami duduk berdua, ditemani
kopi dan rokok. Di sekitarku ada juga te mpat-tempat sebagaimana yang kami
duduki, dan beberapa orang juga tengah menunggu sesuatu. Sebagaimana di
pantai-pantai yang lain, suasana yang kurasakan tak jauh berbeda.” (Nugroho,
2014, hlm. 4)
“Mimpi
apa, kok sampai nangis sambil tertawa-tawa?”
“Makanya,
sudahlah, lupakan Bukit Cahaya itu. Itu, kan, Cuma dongeng,” ucapnya sebelum
melanjutkan kembali tidurnya.” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
D. ANALISIS ASPEK PRAGMATIK
1. Analisis Gaya Bahasa
Cerpen
Bukit Cahaya karya Yanusa Nugroho menggunakan bahasa yang sesuai dengan
lingkungan para tokoh dan penggunaan bahasa cakapan sehingga jalan cerita lebih
mudah dipahami, namun ada juga beberapa tokoh yang melesapkan penggunaan bahasa
daerah dalam percakapan antar tokohnya. Gaya bahasa yang digunakan lebih bebas,
tidak terkesan baku atau formal.
“Tapi,
itu miturut, simbah saya, lho, Mas. Jadi, ketika itu, kan, Sokrasana dimintai
tolong kakaknya untuk memindahkan taman milik Batara Wisnu itu, sebagai
persyaratan... ah, sampean tahu, kan, kisahnya, he-he-he. Nah, ketika dibawa
terbang, ada segenggam tanah yang jatuh.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Embuh...
he-he-he.... Saya juga tidak tahu, dan tidak mau tanya-tanya.” (Nugroho, 2014,
hlm. 1)
“Lho,
kan, saya bilang tadi, kata si empunya cerita...haha-ha-ha-ha-ha....” kemudian
dia menyeruput kopi hitamnya yang tanpa gula itu.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Ha-ha-ha...
semua yang ada di sini pernah. Bukan hal baru. Kami bahkan sering ke pulau itu,
atau mereka, orang-orang itu juga kemari beli kebutuhan kecil. Mereka, ya,
seperti kita manusia biasa. Itu sebabnya saya agak heran, kok, Mas tertarik.
Lha, yang aneh apanya? Ha-ha-ha-ha.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Apa,
besok mau menyeberang ke sana? Saya antarkan. Tapi, ya, jangan kecewa, wong
sama saja seperti di sini,” tambah Pak Har. Aku tersenyum. (Nugroho, 2014, hlm.
2)
2. Sudut Pandang
Cerita
tersebut menggunkan sudut pandang First-Person-Central
atau sudut pandang orang pertama sentral
atau juga akuan-sertaan, pengarang berada di dalam cerita menjadi tokoh dalam
cerita tersebut. Berikut kutipannya,
“Aku
harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Kisah
itu memang kudengar dari banyak orang.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Sebuah
kesejukan yang yang tulus dan murni, lewat penuturan Mas Tri Luwih, teman
sesama penggemar kopi pahit.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Jujur
saja, kian banyak potongan-potongan kisah yang seperti memaksakan diri hadir
dalam keseharianku, kian kuat keinginanku untuk menyaksikan bukit cahaya itu.
Dan kian kuat keinginanku untuk menyaksikan sendiri bukit cahaya itu, kian kuat
pula ejekan menerjangku.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Ada
yang mengatakan bahwa seharusnya aku masuk jurusan ilmu klenik saja dan bukan
masuk ekonomi. Ada yang meledek bahwa aku lebih percaya pada yang maya
ketimbang yang nyata , dan entah apa lagi.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Aku
diam saja. Ya, aku sendiri heran mengapa keinginan untuk melihat sendiri bukit
cahaya itu begitu kuat; sementara diam-diam aku sendiri tahu persis bahwa itu
hanyalah dongeng. Ada semacam kekuatan yang saling menarik, yang tengah terjadi
pada diriku.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Kuumumkan
bahwa tekadku bulat sudah. Aku mengajukan cuti khusus nanti di awal bulan Juli.”
(Nugroho, 2014, hlm. 2)
“Maaf,
mungkin aku melantur. Tapi, mungkin, itu semua yang memebuatku diam-diam
membulatkan tekad mencari dan melihat sendiri bukit cahay itu. Sesuatu yang
memberiku kekuatan untuk mencari sumber ketenangan hidup. Ya, barangkali itu.”
(Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Telah
kususuri jalanku, dan aku berada di Galihkangkung. Suasana begitu lengang.
Angin benar-benar seperti senyuman malu-malu seorang gadis yang kau jumpai di
jalan. Jalanan kecil, tanah hitam padat, bersih. Orang-orang yang berjalan
menggiring kerbau, mungkin ke pasar, mungkin ke sawah, bisa dengan mudah kau jumpai.
Mereka tidak memandangku sebagi orang aneh, meski pun bagaimama aku bisa sampai
di tempat ini kurasakan sebagi sesuatu yang aneh.” (Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Aku
diam saja. Percuma saja jika kukatakan bahwa koordinat satelit tak akan bisa
meraba di mana tempat-tempat yang disebut aneh itu berada.” (Nugroho, 2014,
hlm. 2)
“Mungkin
saat itu akulah manusia paling bodoh di dunia ini. Dibanting dan diempaskan
kenyataan yang melingkupiku saat ini, aku tak bisa lain, kecuali diam.”
(Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Aku
menyaksikan kelam di kejauhan. Dembur ombak dan angin asin menyapaku dari laut
di Teluk Galihkangkung. Di gubuk-gubuk kecil ini kami duduk berdua, ditemani
kopi dan rokok. Di sekitarku ada juga te mpat-tempat sebagaimana yang kami
duduki, dan beberapa orang juga tengah menunggu sesuatu. Sebagaimana di
pantai-pantai yang lain, suasana yang kurasakan tak jauh berbeda.” (Nugroho,
2014, hlm. 4)
“Namun,
beberapa saat kemudian ada yang kurasakan aneh.” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
“Tak
kurasakan lagi ketakutan. Tak kurasakan lagi kegelisahan. Aku berada pada
jantung kedamaian yang sungguh tak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
Cahaya-cahaya itu, yang membelintang jumlahnya, seperti membersihkan seluruh
jiwaku.” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
“Cahaya
itu mengajakku mengelilingi kehidupan yang sesungguhnya indah.” (Nugroho, 2014,
hlm. 4)
“Aku
tergagap bangun karena guncangan tangan istriku.” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
“Aku
hanya merasakan sisa cahaya paling cahaya yang melumuri hidupu. Apakah akan
kuceritakan juga mimpiku?” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
“Tapi,
aku yakin benar, kalau itu batu, tentunya batu-batu itu adalah emas.” (Nugroho,
2014, hlm. 4)
Penggunaan kata “aku” berulang-uang
kali dalam cerpen tersebut, sehingga cerita tersebut menggunakan sudut pandang First-Person-Central.
E. SIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan yang disampaikan, penulis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.
1. Cerpen Bukit Cahaya karya Yanusa
Nugroho dapat dikaji dengan struktural
A.
J. Greimas.
2. Pengkajian struktural A. J. Greimas
membuat pemahaman yang mendalam terhadap cerpen Bukit Cahaya perihal alur dan
pengaluran, tokoh, latar, gaya bahasa, dan sudut pandang.
CERPEN BUKIT CAHAYA DAN LEGENDA
TAMAN SRIWEDARI DALAM TINJAUAN INTERTEKSTUAL
A. INTERTEKSTUAL
Kajian
intertekstual adalah kajian terhadap sejumlah teks yang diduga mempunyai
bentuk-bentuk hubungan tertentu (Nurgiyantoro, 2013, hlm. 76). Adanya hubungan
unsur-unsur instrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, gaya
bahasa, dan lain-lain diantara teks-teks yang dikaji. Kajian intertekstual
berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya
sebelumnya pada karya yang muncul sebelumnya. Tujuan kajian intertekstual
adalah untuk memeberikna makna secara mendalam terhadap karya tersebut.
Penulisan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahan, sehingga
pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan
itu (Teeuw, 1983, hlm. 62-65). Dalam hal ini, sebuah teks memerlukan teks-teks lain
untuk mengembangkannya. Pandangan intertekstual pada sebuah teks mungkin saja
mengandung unsur pemindahan dari berbagai teks lain, dan hal itu merupakan hal
yang biasa. Menurut Luxemburg, dkk. (1992:10), mengartikan intertekstual
sebagai: kita menulis dan membaca dalam suatu interteks suatu tradisi dan budaya, sosial, dan sastra,
yang tertuang dalam teks-teks.
Kajian
intertekstual berasumsi bahwa karya sastra tidak lahir dari situasi kekosongan
budaya. Unsur budaya tersebut menyangkut tradisi masyarakat, dalam wujudnya
yang khusus yakni teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya seperti folklore,folktales, dan lain-lain. Karya
sastra yang ditulis biasanya berdasrkan pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dengan cara meneruskan maupun menyimpangi (menolak,
memutarbalikkan esensi) konvensi (untuk istilahnya yaitu Hipogram)
Adanya
karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya sesudahnya menjadi
perhatian utama kajian intertekstual, misalnya pengontrasan antara sebuah teks
dengan teks-teks lain yang diduga menjadi hipogramnya. Adanya unsur hipogram
dalam suatu karya mungkin disadari mungkin juga tidak disadari oleh pengarang.
Kesadaran pengarang terhadap teks yang menjadi hipogramnya, berwujud dalam
sikapnya yang meneruskan atau sebaliknya menolak konvensi yang berlaku
sebelumnya( (menyimpang). Penulisan
sebuah teks kesastraan tidak mungkin tunduk seratus persen pada konvensi (aturan). Orang membutuhkan
konvensi, aturan, namun hal itu sekaligus kan disimpangnya. Levin (Teeuw, 1988,
hlm.101) mengatkan bahwa pengakuan konvensi dalam sejarah bertepatan dengan
penolakannya. Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan
memberikan makna teks yang bersangkutan. Teks itu diprediksikan sebagai sebagai
reaksi, penyerapan, atau transformasi dari teks-teks yang lain. Adanya hubungan
intertekstual dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada dasarnya pembacalah
yang menentukan ada atau tidaknya kaitan anatar teks yang satu dengan teks yang
lainnya, unsur-unsur hipogram itu berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan,
dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap adanya
unsur hipogram pada suatu karya dari teks-teks lain pada hakikatnya merupakan
penerimaan atau reaksi pembaca.
Hubungan
intertekstual terhadap cerita wayang dalam hal ini, beberapa dekade terakhir
dalam perkembangan sastra Indonesia ditemukan ada banyak karya sastra, terutama
fiksi, yang memiliki hubungan intertekstual dengan cerita wayang. Hubungan intertekstual
itu terutama terlihat pada penghipograman cerita wayang yang menyangkut plot
dan penokohan, baik yang bersifat meneruskan maupun yang menolak tradisi
(Nurgiyantoro, 1988).
B. KAJIAN INTERTEKSTUAL
1. Tinjauan terhadap Cerpen Bukit
Cahaya
Cerpen
Bukit Cahaya karya Yanusa Nugroho menceritakan tentang seseorang (tokoh Aku)
yang memilki keyakinan yang kuat terhadap keberadaan bukit cahaya. Banyak orang
yang mengatakan bahwa bukit cahaya hanyalah sebuah dongeng yang belum tentu
benar dan pasti keberadaannya. Menurut beberapa kisah yang didengar dari
teman-temanya bukit cahaya merupakan serpihan tanah taman Sriwedari milik
Batara Wisnu yang jatuh ketika dibawa terbang oleh Sokrasana. Hal ini sesuai
dengan cerita pewayangan. Selain itu, menurut temannya pula, bukit cahaya hanya
bercahaya pada malam ketujuh bulan ketujuh. Akan tetapi, semua itu hanyalah
sebuah dongeng tanpa sumber yang jelas. Karena pernyataan itu pula, tokoh utama
(tokoh Aku) diejek dan diremehkan teman-teman dan Bos di kantornya. Ia
dikatakan sebagai orang yang percaya pada sesuatu yang maya daripada yang
nyata. Berdasarkan hal itu, pendirin tokoh Aku semakin kuat untuk percaya pada
bukit cahaya, kisah-kisah yang didengarnya tersebut membuat ia semakin tertarik
dan ingin membuktikan kepada semua orang tentang keberadaan bukit cahaya yang
memiliki keindahan menkjubkan.
Keyakinan
yang kuat dari tokoh Aku membuat keinginan dan impiannya untuk melihat bukit
cahaya itu tercapai. Bukit cahaya yang terletak di dusun Galihkangkung, sebuah
tempat yang memang belum terpetakan di Indonesia, namun di dalam cerita tokoh
Aku berhasil dengan mudah berada di tempat itu melalui bantuan dari temannya,
yakni tokoh Gusti Purusa dan Pak Har. Tokoh Aku berhasil melihat keindahan
bukit cahaya, ia menyaksikannya secara langsung. Batu-batu itu seperti emas,
kerikil-kerikil itu intan, dan menjadi
satu membentuk sebuah cahaya yang sangat indah menjulang tinggi ke langit. Akan
tetapi, keindahan tersebut hanya mampu dilihatnya dalam mimpi tidak dalam dunia
yang nyata, tapi tokoh aku yakin bahwa yang dilihatnya tersebut adalah suatu
kebenaran tentang keberadaan bukit cahaya yang banyak tidak dipercayai oleh
orang lain.
2. Tinjauan terhadap Legenda Taman
Sriwedari
Legenda Taman Sriwedari
merupakan sebuah kisah pewayangan anatara Sumantri dan Sokrasana, kakak beradik
yang memilki perbedaan fisik dan kesaktian terhadap keduanya.
Sejak muda Sumantri
memang telah menyiapkan masa depannya. Ia menuju kerajaan Maespati untuk
mengabdi pada Prabu Harjuna Sasrabahu (dikenal sebagi Arjuna) dan meninggalkan
adiknya Sokrasana karena ia merasa kehadiran adiknya kan menjadi penghambat dalam
hidupnya lantaran fisik Sokrasana yang buruk rupa walau kesaktiannya berada
satu tingkat dari kakaknya, Sumantri. Sumantri dan Sokrasana adalah sepupu
Arjuna karena ayah Arjuna dan ayah Sumantri dan Sokrasana adalah kaka beradik. Suwandagni
(ayah Sumanrtri dan Sokrasana) dan Jamadagni (ayah Arjuna).
Arjuna Sasrabahu
yang dianggap sebagi Batara Wisnu adalah raja kerajaan Mahespati, istri Arjuna
bernama Citrawati dari kerajaan Magadha. Sumantri yang bekerja pada Arjuna
diberikan tugas melamar Citrawati. Pada sebuah pertempuran Sumantri berhasil
membebaskan negeri Magada dari pasukan Widarba dan mendapatkan Citrawati.
Keberhasilan Sumantri dalam peranag tersebut membuatnya lupa diri dan sombong,
ia tidak memerdulikan lagi tugas yang diberikan oleh Arjuna. Sumantri memiliki
niat tidak baik, ia menantang Arjuna untuk mendapatkan Citrawati dari tangan
Sumantri, hingga terjadilah pertempuran antar keduanya. Akhirnya, Sumantri
mengaku kalah pada Arjuna dan menyerahkan Citrawati. Saat itu pula, Sumantri
memohon ampun pada Arjuna atas perbuatannya. Arjuan pun mau memaafkan Sumantri
dengan syarat Sumantri harus memindahkan Taman Sriwedari dari Gunung Untarayana
ke Istana Mahespati. Sumantri pun melaksanakan perintah tersebut walau
sebenarnya ia sendiri tidak mampu dan meminta bantuan pada adiknya, Sokrasana. Sokrasana
memebantu kakaknya untuk memindahkan Taman Sriwedari dengan kesaktiannya
asalkan kakaknya, Sumantri mengajak adiknya, Sokrasana untuk mengajaknya kemana
pun Sumantri pergi dan tidak meninggalkanya lagi. Sumantri menyetujui
permintaan adiknya, Sokrasana dengan syarat agar Sokrasana bersembunyi dan
tidak menampakkan diri di muka umum. Karena keberhasilan pemindahan Taman
Sriwedari ke Istana Mahesapati tersebut, Arjuna mengangkat Sumantri sebagai
patih bergelar Suwanda.
Pada suatu hari Citrawati bersama pengiringnya berada di
Taman Sriwedari, tiba-tiba melihat raksasa kerdil berada di taman. Ia lari
mengadu kepada Harjuna Sasrabahu (Arjuna). Sumantri yang telah bergelar patih
sumanda pun lari memeriksa keadaan yang terjadi. Sumantri marah ketika
mengetahui bahwa raksasa yang menakutkan Citrawati itu adalah Sokrasana,
adiknya sendiri. Menggunakan senjatanya, Sumantri mengacam agar Sokrasana pergi
meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, panah dari senjata tersebut terlepas
tanpa sengaja dari tangan Sumantri mengenai tubuh Sokrasana hingga matilah
Sokrasana, adiknya tersebut.
Pada sebuah pertempuaran Sumantri dibunuh oleh Rahwana
yakni musuh Arjuna. Arjuna merasa sedih mendengar kematian sepupunya tersebut
karena Sumantri adalah sepupu kesayangan Arjuna. Tubuh Sumantri setengah hancur
dan mengenaskan, tapi ia segera ke surga, dan Patih Suwondo (Sumantri) itu bertemu dengan
Sokrasana, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa
kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak
panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.
3.
Intertekstual Alur Cerpen Bukit Cahaya terhadap Legenda Taman Sriwedari
|
Cerpen Bukit Cahaya
|
Legenda Taman Sriwedari
|
|
·
Tokoh Aku mendapat kisah tentang bukit cahaya
dari teman-temanya
·
Tokoh Aku semakin tertarik untuk menyaksikan
secara langsung bukit cahaya sehingga keyakinannya semakin kuat dalam
keberadaan bukit cahaya
·
Tokoh Aku mengambil cuti dari kantornya pada
bulan Juli karena menurut kisah yang didapatkanya, bukit tersebut bercahaya
hanya satu tahun sekali tepatnya pada malam ketujuh bulan ketujuh
·
Berdasarkan pernyataan tersebut tokoh Aku
mendapat ejekan dari tokoh-tokoh lainnya karena tokoh aku mempercayai sebuah
dongeng dan ingin mengunjungi suatu tempat yang memang belum terpetakan di
Indonesia, Dusun Galihkangkung
·
Tokoh Aku tidak menghiraukan ejekan orang lain
tentang dirinya hingga ia sampai di Dusun Galihkangkung tersebut melalui
bantuan tokoh lain
·
Tokoh Aku berhasil menyaksikan keindahan bukit
cahaya yang selama ini ia yakini
·
Tokoh Aku terbangun dari mimpinya tersebut,
tentang keberadaanya di bukit cahaya
|
·
Sumantri dan Sokrasana adalah kakak beradik,
keduanya merupakan sepupu dari Arjuna (Harjuna
Sasrabahu)
·
Sumantri meninggalkan Sokrasana untuk mengabdi
dan bekerja pada Arjuna di kerajaan Mahespati
·
Arjuna memberi tugas pada Sumantri untuk
melamarkan Citrawati dari kerajaan Magada untuk Arjuna
·
Sumantri berhasil mengalahkan kerajaan Magada
dan mendapatkan Citrawati
·
Sumantri memiliki niat buruk menantang Arjuna
untuk mendapatkan Citrawati
·
Terjadi pertarungan antara Arjuna dan Sumantri
·
Sumantri mengalami kekalahan atas Arjuna dan
memohon ampun padanya
·
Arjuna mau memaafkan Sumntri dengan syarat
bahwa ia harus memindahkan Taman Sriwedari ke Istana Mahespati
·
Sumantri meminta bantuan pada adiknya,
Sokrasana untuk menjalankan perintah tersebut dengan syarat Sokrasana ikut
bersama Sumantri, tetapi Sokrasana harus bersembunyi tidak boleh tampil di
muka umum
·
Sokrasana yang memiliki kesaktian satu tingkat
di atas kakaknya tersebut berhasil memindahkan Taman Sriwedari ke Istana
Mahespati
·
Arjuna memaafkan Sumantri dan mengangkat ia
menjadi patih suwondo
·
Ketika Citrawati berada di taman Sriwedari, ia
dikagetkan dengan kehadiran raksasa kerdil yaitu Sokrasana, adik Sumantri
·
Sumantri marah pada Sokrasana dan mengancam
adiknya dengan senjatanya cakrabuana, namun tanpa sengaja panah tersebut terlepas
dari tangannya dan mengenai tubuh Sokrasana hingga menyebabkan Sokrasana
meninggal
·
Sumantri meyesali perbuatannya
·
Terjadi perang antara Sumantri dengan Rahwana,
Sumantri terbunuh oleh Rahwana
·
Arjuna membunuh Rahwana
·
Sumantri dan Sokrasana bertemu kembali di
Surga
|
Jalan cerita keduanya
memang berbeda mulai dari awala cerita, konflik, bahkan akhir cerita pun
mengalami perbedaan, namun kedua cerita tersebut memiliki persamaan untuk
mencapai suatu tujuan yang diinginkan oleh tokoh. Tokoh Aku memiliki sebuah
tujuan untuk bisa menyaksikan bukit cahaya (serpihan Taman Sriwedari) dan
Sumantri melalui bantuan Sokrasana bisa mencapai tujaunnya untuk memindahkan
Taman Sriwedari ke Istana Mahespati
4.
Intertekstual Latar Cerpen Bukit Cahaya terhadap Legenda Taman Sriwedari
|
Cerpen Bukit Cahaya
|
Legenda Taman Sriwedari
|
|
· di
kantor
· dusun
Galihkangkung
· teluk
Galihkangkung
· gubuk-gubuk
kecil
· di
rumah tokoh Aku
· di
bukit cahaya (serpihan Taman Sriwedari)
|
· Kerajaan
Mahesapati
· Taman
Sriwedari
· Di
surga
|
Latar
cerita cerpen Bukit Cahaya memiliki hubungan dengan Legenda Taman Sriwedari,
tepatnya pada latar tempat. Bukit cahaya dalam cerpen tersebut yakni serpihan
Taman Sriwedari yang jatuh saat dibawa oleh Sokrasana, seperti pada kutipan
sebagai berikut,
“Kata
nenek saya, dulu, bukit itu adalah serpihan Taman Sriwedari, ketika
dipindahakan oleh Sokrasana,” ucap Mas Tri Luwih, seorang dalang. Aku kagum.
(Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Tapi,
itu miturut, simbah saya, lho, Mas. Jadi, ketika itu, kan, Sokrasana dimintai
tolong kakaknya untuk memindahkan taman milik Batara Wisnu itu, sebagai
persyaratan... ah, sampean tahu, kan, kisahnya, he-he-he. Nah, ketika dibawa
terbang, ada segenggam tanah yang jatuh.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
Bukit cahaya tersebut menjadi pusat
cerita dalam cerpen, menjadi suatu tujuan yang hendak dicapai oleh tokoh utama.
Keberadaanya yang belum dapat dipastikan lantaran bukit cahaya hanyalah sebuah
dongeng, namun tokoh Aku yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa bukit cahaya
yang merupakan serpihan Taman Sriwedari itu memang ada, walau ada bagian dalam
cerpen tersebut yang membuktikan bahwa tokoh Aku bisa menyaksikan secara
langsung bukit cahaye tersebut, tepatnya di Dusun Galihkangkung. Akan
tetapi, itu hanya terjadi dalam mimpi
tokoh Aku.
Ada
sebuah persamaan anatara cerpen Bukit Cahaya dengan Legenda Taman Sriwedari.
Bukit cahaya (serpihan Taman Sriwedari) maupun Taman Sriwedari menjadi pusat
dan penggerak cerita, persamaan tempat tersebut menjadi suatu tujuan yang harus
dicapai oleh masing-masing tokoh. Tokoh Aku yang memiliki keinginan untuk
melihat langsung bukit cahaya tersebut dan Taman Sriwedari yang menjadi
persyaratan dari Arjuna bagi Sumantri untuk menebus kesalahan yang telah
dilakukan Sumantri terhadap Arjuna. Tokoh Sumantri sebenarnya tidak melakukan
apa pun, dia meminta bantuan pada adiknya, Sokrsana yang memiliki satu tingkat
kesaktian di atasnya. Arjuna tidak mengetahui tentang perbuatan Sokrasan
tersebut. Tokoh Aku dalam cerita Bukit Cahaya pun dalam dunia nyata tidak
menemukan bukit cahaya tersebut, ia menjumpai bukit cahaya tersebut hanya dalam
mimpinya bukan dalam dunia nyata yang dijalaninya, sehingga sulit bagi tokoh
lain untuk mempercayai keberadaan bukit cahaya tersebut.
“Arjuna
pun mau memaafkan Sumantri dengan syarat Sumantri harus memindahkan Taman
Sriwedari dari Gunung Untarayana ke Istana Mahesapati.” (Legenda Taman
Sriwedari)
“Aku
harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.” (Nugroho, 2014, hlm. 1)
“Telah
kususuri jalanku, dan aku berada di Galihkangkung. Suasana begitu lengang.
Angin benar-benar seperti senyuman malu-malu seorang gadis yang kau jumpai di
jalan. Jalanan kecil, tanah hitam padat, bersih. Orang-orang yang berjalan
menggiring kerbau, mungkin ke pasar, mungkin ke sawah, bisa dengan mudah kau
jimpai. Mereka tidak memandangku sebagi orang aneh, meski pun bagaimama aku
bisa sampai di tempat ini kurasakan sebagi sesuatu yang aneh.” (Nugroho, 2014,
hlm. 3)
“Ya. Di teluk itu ada bebrapa pulau kecil
berbukit-bukit, nah salah satunya itulah yang nanti akan kita lihat bercahaya.”
(Nugroho, 2014, hlm. 3)
“Makanya,
sudahlah, lupakan Bukit Cahaya itu. Itu, kan, Cuma dongeng,” ucapnya sebelum
melanjutkan kembali tidurnya.” (Nugroho, 2014, hlm. 4)
Selain itu, akhir kedua cerita
tersebut, baik cerpen Bukit Cahaya maupun Legenda Taman Sriwedari, keduanya
berhasil mencapai tujuan utama yang menjadi pusat dalam cerita. Tokoh Aku yang
berhasil menjumpai bukit cahaya (serpihan Taman Sriwedari) melalui mimpinya dan
Sumantri yang berhasil menerima persyaratan yang diberikan Arjuna untuk
memindahkan taman Sriwedari melalui Sokrasana, adiknya. Sehingga, kedua cerita
tersebut memiliki hubungan satu sama
lain dalam latar tempat ceritanya.
5.
Intertekstual Tokoh Cerpen Bukit Cahaya terhadap Legenda Taman Sriwedari
|
Cerpen Bukit Cahaya
|
Legenda Taman Sriwedari
|
|
· Tokoh Aku
· Mas
Tri Luwih
· Gus
Rony
· Bos
· Teman-teman
kantor
· Gusti
Purusa
· Pak
Har
· Istri
tokoh Aku
|
· Sumantri
· Sokrasana
· Arjuna
(Harjuna Sasrabahu)
· Citrawati
· Rahwana
|
Tokoh-tokoh
yang terdapat dalam cerpen Bukit Cahaya berbeda dengan tokoh-tokoh yang ada
dalam cerita Legenda Taman Sriwedari, hanya saja terdapat beberapa karakter dari
tokoh dalam cerpen Bukit Cahaya yang memiliki kesamaan dengan karakter tokoh
dalam Legenda Taman Sriwedari.
· Tokoh
Aku memiliki karakter yang sama dengan tokoh Sokrasana. Keduanya memiliki
karakter yang kuat terhadap cerita. Tokoh Aku memiliki sifat keyakinan yang
kuat untuk mendapatkan sesuatu dan menjadi tokoh yang diremehkan pula oleh tokoh-tokoh
yang lain. Begitu pula dengan karakter tokoh Sokrasana yang memiliki sifat baik
hati untuk membantu kesulitan kakaknya dan menjadi tokoh yang selalu diremehkan
oleh tokoh lain pula karena fisiknya meski pun ia memiliki kesaktian yang
lebih.
· Tokoh Bos dan teman-teman kantor memiliki
karakter yang sama dengan tokoh Sumantri. Tokoh Bos dan teman-teman kantor dari
tokoh Aku merupakan orang-orang yang suka meremehkan pernyataan dan pendapat
dari tokoh Aku, suka mengejek tokoh Aku pula. Tokoh Sumantri memiliki sifat
suka memanfaatkan orang lain, baik kepada orang lain apabila ia membutuhkan,
dan suka meremehkan kemampuan orang lain pula.
6.
Intertekstual Tema Cerpen Bukit Cahaya terhadap Legenda Taman Sriwedari
Tema
yang diangkat pada kedua cerita ini umumnya mengandung tema moral, bahwa keyakinan
yang kuat dalam mencapai suatu tujuan sangat diperlukan oleh setiap orang
karena keyakinan tersebut bisa menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan tersebut.
Menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan, potensi, prinsip, dan
pemikiran masing-masing, dan setiap orang pun harus menghargai perbedaan itu,
meremehkan pemikiran orang lain bukanlah perilaku yang baik, karena dari
pemikiran setiap orang itu bisa menjadi sebuah kebenaran dalam hidup.
“Mereka
sudah tak percaya pada kekuatan keindahan. Mereka jauh lebih percaya pada
perhitungan logika-entah, apa sebetulnya pemahaman mereka tentang logika.
Mereka bahkan tak biasa lagi gelenikan,
ngobrolkosong, senda gurau, atau canda antarsesama manusia, lantaran jauh dalam
diri mereka hanya ada rasa curiga dan syak wasangka. Semua unsur kehidupan
didasarkan pada untung rugi secara sempit. Mereka lebih percaya pada skala
penjualan.” (Nugroho, 2014, hlm. 2)
C.
SIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan yang disampaikan, penulis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.
1. Cerpen Bukit Cahaya karya Yanusa
Nugroho dan Legenda Taman Sriwedari memiliki keterkaitan cerita.
2. Alur cerita cerpen Bukit Cahaya karya
Yanusa Nugroho berbeda dengan cerita Legenda Taman Sriwedari, tetapi keduanya
memiliki tujuan yang sama dalam cerita tersebut, yakni Taman Sriwedari
3. Latar cerita cerpen Bukit Cahaya
karya Yanusa Nugroho memiliki kesamaan dengan cerita Legenda Taman Sriwedari.
Bukit Cahaya dikisahkan sebagai serpihan tanah yang jatuh dari Taman Sriwedari
saat Sokrasana, adik Sumantri yang menyuruhnya untuk memindahkan Taman
Sriwedari ke Istana Mahesapati
4. Tokoh cerpen Bukit Cahaya karya
Yanusa Nugroho berbeda dengan tokoh Legenda Taman Sriwedari, hanya ada beberapa
persamaan karakter yang dimiliki, seperti tokoh Aku dengan Sokrasana, tokoh Bos
dan teman-teman kantor dengan Sumantri.
5. Tema cerpen Bukit Cahaya karya Yanusa
Nugroho dengan Legenda Taman Sriwedari, kedua cerita tersebut mengangkat tema
moral tentang sebuah keyakinan dalam memandang suatu hal.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyono, S. (2014). Cerita Wayang. [Online].
Tersedia di: http://kumpulanceritawayanghtm.
[Diakses 9 September 2014].
Nugroho, Y. (2014). Bukit Cahaya. [Online]. Tersedia di: http://cerpenkompas2014.htm.
[Diakses 4 September 2014].
Nurgiyantoro, B. (2000). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gadjah Mada Universitas Press.
Wayang. (2010). Sumantri dan Sokrasana. [Online].
Tersedia di: http://wayangindonesia.htm.
[Diakses 9 September 2014].
Wikipedia. (2014). Kartawirya Arjuna. [Online].
Tersedia di: http://wikipedia-kartawirya-arjuna.htm.
[Diakses 9 September 2014].
LAMPIRAN
Teks 1
Bukit Cahaya
Cerpen
Yanusa Nugroho (Kompas, 16 Februari 2014)
KALAU itu
batu, tentunya batu-batu itu adalah emas. Jika itu kerikil, tentu
kerikil-kerikil itu intan. Semuanya itu menyatu, membentuk sebuah bukit yang
bercahaya, bersinar terang, berkilau memukau, pada malam tertentu di bulan
tertentu.
Aku harus
menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.
Kisah itu
memang kudengar dari banyak orang. Sepotong demi sepotong, cerita tentang bukit
yang bercahaya itu menyambangiku; seperti kehadiran seorang sahabat yang sudah
lama tak jumpa. Ada yang muncul ketika di perjalanan pulang kantor, ada yang
hadir ketika aku harus keluar kota untuk urusan kantor. Ada yang ”numpang
lewat” di Facebook. Dan semuanya, seperti puzzle, kepingan-kepingan itu
menuntut untuk disatukan. Anehnya, aku tak kuasa menolak atau
mengabaikannya.
”Kata nenek
saya, dulu, bukit itu adalah serpihan Taman Sriwedari, ketika dipindahkan oleh
Sokrasana,” ucap Mas Tri Luwih, seorang dalang. Aku kagum.
”Tapi, itu
miturut, simbah saya, lho, Mas. Jadi, ketika itu, kan, Sokrasana dimintai
tolong kakaknya untuk memindahkan taman milik Batara Wisnu itu, sebagai
persyaratan… ah, sampean tahu, kan, kisahnya, he-he-he. Nah, ketika dibawa
terbang, ada segenggam tanah yang jatuh.”
”Jadi,
cuilan Taman Sriwedari itu menjelma Bukit Cahaya itu?”
”Miturut
dongeng, begitu…,” jawab Mas Tri Luwih kalem.
Meskipun aku
tahu bahwa itu hanyalah dongeng, tapi yang sampai pada hatiku adalah sebuah
keindahan. Sebuah kesejukan yang tulus dan murni, lewat penuturan Mas Tri
Luwih, teman sesama penggemar kopi pahit.
Lain lagi
potongan kisah yang datang dari Gus Rony, juga teman sesama penggemar kopi
pahit. Menurutnya, dari yang dia dengar, tidak setiap saat bukit itu
memendarkan cahaya. ”Hanya pada malam ketujuh, di bulan ketujuh.”
”Jadi, hanya
setahun sekali?”
”Ya.”
”Kenapa?”
”Embuh…
he-he-he…. Saya juga tidak tahu, dan tidak mau tanya-tanya.”
”Sampean
tahu dari mana?”
”Lho, kan,
saya bilang tadi, kata si empunya cerita… haha-ha-ha-ha-ha….” kemudian dia
menyeruput kopi hitamnya yang tanpa gula itu.
Jujur saja,
kian banyak potongan-potongan kisah yang seperti memaksakan diri hadir dalam
keseharianku, kian kuat keinginanku untuk menyaksikan bukit cahaya itu. Dan
kian kuat keinginanku untuk menyaksikan sendiri bukit cahaya itu, kian kuat
pula ejekan menerjangku.
Ada yang
mengatakan bahwa seharusnya aku masuk jurusan ilmu klenik saja dan bukan masuk
ekonomi. Ada yang meledek bahwa aku lebih percaya pada yang maya ketimbang yang
nyata, dan entah apa lagi. ”Emang kamu itu si Milo? Itu, yang di film Journey
to the Bottom of the World? he-he-he…. Tuh, lihat di jalanan buruh semua demo,
minta kenaikan UMR. Tuh, ada gubernur cantik dandannya satu miliar. Itu
kenyataan. Gak usah sok mimpi mau lihat bukit bercahaya segala.” Ada saja yang
gusar karena kegilaanku dan mengucap semau-maunya tentang apa yang harus
disebut kenyataan dan bukan.
Aku diam
saja. Ya, aku sendiri heran mengapa keinginan untuk melihat sendiri bukit
cahaya itu begitu kuat; sementara diam-diam aku sendiri tahu persis bahwa itu
hanyalah dongeng. Ada semacam kekuatan yang saling menarik, yang tengah terjadi
pada diriku.
Ku umumkan
bahwa tekadku bulat sudah. Aku mengajukan cuti khusus nanti di awal bulan Juli.
Bosku, yang selama ini hanya tersenyum, kali ini menatapku dalam-dalam.
”Maaf, sudah
tahu di mana persisnya bukit cahayamu itu,” ucapnya dengan nada serius.
”Tahu, Pak,
di Dusun Galihkangkung.”
Dia
mengernyitkan dahi, mempertajam pandangannya, mencoba mencari di mana si lawan
bicara berada saat itu.
”Ya, itu
nama yang aneh. Dan saya yakin belum terpetakan,” ujarku dengan suara agak
tersekat.
Bosku
kemudian tertawa terbahak-bahak. Tak lama dia berkata dengan lantang, memberi
tahu seisi ruangan bahwa ada sebuah tempat namanya Galihkangkung dan itu belum
terpetakan di Indonesia. Kau tentu bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi
di ruangan besar itu.
Aku diam
saja. Percuma saja jika kukatakan bahwa koordinat satelit tak akan bisa meraba
di mana tempat-tempat yang disebut aneh itu berada. Mereka tak akan percaya
pada kemustahilan teknologi yang konon canggih itu. Percuma saja aku katakan
bahwa apa yang kita percayai sebagai logika, tak lebih daripada sebatok kepala
kita sendiri; sementara begitu banyak hal di luar sana, yang jauh, jauh lebih
besar daripada batok kepala kita. Percuma saja, toh, mereka memang tidak pernah
berusaha untuk memercayai.
Mereka sudah
tak percaya pada kekuatan keindahan. Mereka jauh lebih percaya pada perhitungan
logika—entah, apa sebetulnya pemahaman mereka tentang logika. Mereka bahkan tak
bisa lagi glenikan, ngobrolkosong, senda gurau, atau canda antarsesama manusia,
lantaran jauh dalam diri mereka hanya ada rasa curiga dan syak wasangka. Semua
unsur kehidupan didasarkan pada untung rugi secara sempit. Mereka lebih percaya
pada skala penjualan. Mereka bukan lagi pengikut para nabi, meskipun dari mulut
mereka membusa ayat-ayat Tuhan; mereka menyembah uang yang menurut mereka lebih
nyata daripada Tuhan.
Maaf, mungkin
aku melantur. Tapi, mungkin, itu semua yang membuatku diam-diam membulatkan
tekad mencari dan melihat sendiri bukit cahaya itu. Sesuatu yang memberiku
kekuatan untuk mencari sumber ketenangan hidup. Ya, barangkali memang itu.
Telah
kususuri jalanku, dan aku berada di Galihkangkung. Suasana begitu lengang.
Angin benar-benar seperti senyuman malu-malu seorang gadis yang kau jumpai di
jalan. Jalanan kecil, tanah hitam padat, bersih. Orang-orang yang berjalan
menggiring kerbau, mungkin ke pasar, mungkin ke sawah, bisa dengan mudah kau
jumpai. Mereka tidak memandangku sebagai orang aneh, meskipun bagaimana aku
bisa sampai di tempat ini kurasakan sebagai sesuatu yang aneh.
Entah
bagaimana, Gusti Purusa—dia memang bernama Gusti—memberi tahu bahwa ada salah
satu kerabatnya di Galihkangkung. Mengapa bisa Gusti Purusa mau memberi tahu,
aku juga bingung, karena sebetulnya aku tidak kenal langsung dengan dia. Ah,
sudahlah, aku hanya berprinsip: ada kemauan, ada jalan—seganjil apa pun jalan
itu; dan di rumah kerabat Gusti Purusa inilah aku tinggal di Galihkangkung.
”Nanti
malam, Mas. Menjelang jam sebelas, kita jalan sampai ke tepian teluk,” ujar Pak
Har, si tuan rumah.
”Oh, jadi
bukit itu di laut?”
”Ya. Di
teluk itu ada beberapa pulau kecil berbukit-bukit, nah salah satunya itulah
yang nanti akan kita lihat bercahaya.”
”Pak Har
pernah menyaksikan sendiri?”
”Ha-ha-ha…
semua yang ada di sini pernah. Bukan hal baru. Kami bahkan sering ke pulau itu,
atau mereka, orang-orang itu juga kemari beli kebutuhan kecil. Mereka, ya,
seperti kita manusia biasa. Itu sebabnya saya agak heran, kok, Mas tertarik.
Lha yang aneh apanya? Ha-ha-ha-ha.”
Sekali lagi
aku dibantah oleh keluguan. ”Maksud saya,” ucapku buru-buru, ”mengapa bukit itu
bercahaya? Dan hanya pada saat tertentu saja?”
”Ah, Mas
ini… ha-ha-ha-ha-ha…. Ya, memang begitu. Nanti kalau bercahaya terus-menerus
dikira sumur bor minyak? Haha-ha-ha-ha…. Ndak ada yang aneh, Mas, biasa saja.
Malah, kalau setahun sekali, bagus, karena ada yang ditunggu-tunggu, ada yang
akan ditonton dari pantai. Memang indah, Mas. Tapi, ya… biasa sajalah, bukan
aneh, kok.”
Mungkin saat
itu akulah manusia paling bodoh di dunia ini. Dibanting dan diempaskan
kenyataan yang melingkupiku saat ini, aku tak bisa lain, kecuali diam.
”Apa, besok
mau menyeberang ke sana? Saya antarkan. Tapi, ya, jangan kecewa, wong sama saja
seperti di sini,” tambah Pak Har. Aku tersenyum.
Aku
menyaksikan kelam di kejauhan. Debur ombak dan angin asin menyapaku dari laut
di Teluk Galihkangkung. Di gubuk-gubuk kecil ini kami duduk berdua, ditemani
kopi dan rokok. Di sekitarku ada juga tempat-tempat sebagaimana yang kami
duduki, dan beberapa orang juga tengah menunggu sesuatu. Sebagaimana di
pantai-pantai yang lain, suasana yang kurasakan tak jauh berbeda.
Namun,
beberapa saat kemudian ada yang kurasakan aneh. Udara mendadak dingin, padahal
angin mati. Malam tiba di kulminasinya. Di keremangan sana, di bukit yang
semula hitam samar-samar, kusaksikan cahaya menitik satu demi satu. Menyala
kuning kemerahan di sana-sini. Jumlahnya kian banyak, dan entah pada kedipan
mataku yang ke berapa, tiba-tiba titik-titik itu seperti membuncah karena
seperti kepingan emas yang dituang dari langit. Merambat perlahan meninggi dan
meninggi, cahaya yang menjulang, membukit, terang benderang, membawaku melayang.
Tak
kurasakan lagi ketakutan. Tak kurasakan lagi kegelisahan. Aku berada pada
jantung kedamaian yang sungguh tak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
Cahaya-cahaya itu, yang membintang jumlahnya, seperti membersihkan seluruh
jiwaku. Meneranginya dengan kelembutan. Cahaya itu seperti menggemakan kidung,
melaut bunyinya, bagi kebesaran Sang Maha Besar. Cahaya itu seolah mengajakku
menikmati keindahan Sang Maha Indah.
Air mataku
mengucur deras menyaksikan keindahan yang belum pernah terperangkap jiwaku seumur
hidup. Keindahan itu hanya kupercaya, melalui tuturan manusia-manusia berjiwa
indah, dan dengan caranya yang indah memasuki jiwaku.
Cahaya itu
mengajakku mengelilingi kehidupan yang sesungguhnya indah. Gadis-gadis cantik
yang lahir dari permata. Batang-batang delima cahaya yang menundukkan cabangnya
manakala tanganmu meraihnya, dan membiarkan rasa madu bilamana kau mencecapnya,
kutemukan di cahaya itu.
Aku
tergeragap bangun karena guncangan tangan istriku.
”Mimpi apa,
kok sampai nangis sambil tertawa-tawa?”
Aku diam.
”Makanya,
sudahlah, lupakan Bukit Cahaya itu. Itu, kan, cuma dongeng,” ucapnya sebelum
melanjutkan kembali tidurnya.
Aku hanya
merasakan sisa cahaya paling cahaya yang melumuri hidupku. Apakah akan
kuceritakan juga mimpiku? Buat apa? Kepada siapa? Siapakah yang saat ini butuh
mimpi, yang menurut mereka tidak masuk akal ini?
Tapi aku
yakin benar, kalau itu batu, tentunya batu-batu itu adalah emas. Jika itu
kerikil, tentu kerikil-kerikil itu intan.
Teks 2
Legenda Taman Sriwedari
Dalam pewayangan Jawa, Kartawiryarjuna lebih sering
disebut dengan nama Prabu Arjuna Sasrabahu. Ia disebut sebagai putra Kartawirya
dan masih keturunan Batara Surya.
Kakeknya yang bernama Herriya adalah pendiri Kerajaan
Mahespati. Herriya memiliki adik bernama Resi Wisageni yang mempunyai dua
orang putra bernama Suwandagni dan Jamadagni. Suwandagni memiliki putra bernama
Sumantri dan Sukasrana, sedangkan Jamadagni memiliki putra bernama Ramabargawa alias Parasurama. Dengan
demikian, antara Arjuna dan Parasurama masih terjalin hubungan sepupu.
Arjuna Sasrabahu
versi Jawa dianggap sebagai awatara
Batara Wisnu. Ia
memerintah dengan adil dan bijaksana di Kerajaan Mahespati. Istrinya bernama Citrawati
putri dari Kerajaan
Magadha. Orang yang ditugasi melamar putri tersebut adalah Sumantri. Tak ada yang membantah bahwa Sumantri adalah satria bagus
rupanya, wira-sakti, yang bersenjatakan Cakrabaskara pemusnah angkara murka,
namun memiliki budi pekerti yang buruk. Sebaliknya
adiknya, Sokrasana berwajah raksasa, tetapi berbudi luhur dan sakti.
Pada suatu malam Sumantri menghadap Resi Suwandagni untuk
memohon diri, guna pergi melamar pekerjaan ke negeri Mahespati. Tetapi ia tak
mau membawa adiknya, karena malu terhadap wajah Sukasrana itu. Sumantri di
terima oleh Harjuna Sasrabahu, asalkan dapat merebut putri dari negeri Magada.
Keberhasilan
Sumantri sempat membuatnya lupa diri. Ia pun menantang Arjuna apabila ingin
memperistri Citrawati harus merebutnya sendiri. Keberhasilan Sumantri sempat
membuatnya lupa diri. Ia pun menantang Arjuna apabila ingin memperistri
Citrawati harus merebutnya sendiri. “Kalau demikian
lebih baik aku tantang Harjuna Sasrabahu untuk menandingi keperwiraanku.
Tantangan Sumantri diterima oleh Harjuna Sasrabahu dengan senang hati.
Tantangan Sumantri diterima oleh Harjuna Sasrabahu dengan senang hati.
Terjadilah peperangan yang seru dan dahsyat karena
masing-masing adalah inkarnasi (belahan) Wisnu. Sumantri kemudian mengangkan
dan melepaskan Cakrabaskara kearah Harjuna Sasrabahu. Cakrabaskara menyala,
gemuruh suaranya membelah angkasa, mengejutkan hati Harjuna Sasrabahu. Karena
murkanya, Harjuna bertiwikrama menjadi seorang raksasa yang maha besar bermuka
seribu, sehingga dengan mudah senjata Cakrabaskara ditangkapnya. Sumantri
diringkus dan diinjak dibawah telapak kakinya. Sambil menangis Sumantri meminta
ampun atas kelancangan dan kesalahannya. Anehnya, Harjuna Sasrabahu masih
memberi maaf dan mau menerima pengabdiannya, tetapi dengan syarat yang lebih
berat. Sumantri diperintahkan untuk memindahkan taman Sriwedari dengan ancaman
hukuman, apabila ternyata tak berhasilm maka ia tidak akan diterima
pengabdiannya. Dalam kesedihan ini datanglah Sukrasana menyusul Sumantri. Ia
bersedia menolong, asalkan ia diperbolehkan turut serta kemanapun Sumantri
berada. Permufakatan tercapai. Dan Sukasrana dengan kesaktiannya berhasil
memutar taman Sriwedari dipindahkan ke negeri Maespati. Atas jasanya itu
Sumantri berterima kasih kepada adiknya, tetapi dengan pesan agar Sukasrana
bersembunyi tidak menampakkan diri, apalagi menemuinya di muka umum.
Sumantri berhasil
memenuhi permintaan tersebut berkat bantuan adiknya, yaitu Sukasrana. Arjuna
yang sangat gembira memutuskan untuk mengangkat Sumantri sebagai patih bergelar Suwanda.
Pada suatu hari Citrawati bersama pengiringnya dikala
sedang bersukaria di taman Sriwedari, tiba-tiba lari ketakutan melihat raksasa
kerdil berada di taman. Ia lari tunggang langgang mengadu kepada Harjuna
Sasrabahu. Sumantri yang telah bergelar Patih Suwanda segera datang memeriksa taman.
Bukan main marahnya ketika tahu bahwa raksasa yang menakutkan permasisuri itu adalah adiknya sendiri. Dengan Cakrabaskara Sumantri mengancam agar Sukrasana pergi meninggalkan taman Sriwedari, tetapi sial, senjatanya terlepas dari tangannya dan tewaslah Sukasrana.
Bukan main marahnya ketika tahu bahwa raksasa yang menakutkan permasisuri itu adalah adiknya sendiri. Dengan Cakrabaskara Sumantri mengancam agar Sukrasana pergi meninggalkan taman Sriwedari, tetapi sial, senjatanya terlepas dari tangannya dan tewaslah Sukasrana.
Pada suatu hari
Arjuna bertamasya dengan istrinya di sebuah sungai. Ia bertriwikrama mengubah
wujudnya menjadi raksasa yang sangat besar dan sambil berbaring dibendungnya
aliran sungai tersebut sehingga tercipta kolam sebagai tempat pemandian
Citrawati. Akibatnya, aliran sungai pun meluap membanjiri perkemahan Rahwana raja Kerajaan
Alengka yang sedang dalam perjalanan memperluas wilayah jajahan.
Rahwana yang marah
mendatangi perkemahan Arjuna. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan
Alengka melawan Mahespati. Kebetulan Citrawati adalah reinkarnasi dari Widawati,
perempuan yang dicintai Rahwana. Hal itu membuat Rahwana semakin bernafsu untuk
menumpas pihak Mahespati.
Dalam pertempuran
itu Suwanda (Sumantri) tewas di tangan Rahwana. Di tanah lapang itu, Sumantri
tersungkur. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang.
Tubuh anak muda itu setengah hancur. Ya, Sumantri gugur dengan mengenaskan.
Tapi ia segera melesak ke surga. Dan di sana, Patih Suwondo itu bertemu dengan
Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak
yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di
antara keduanya bagai tak pernah terjadi.
Arjuna Sasrabahu
pun bangun dari tidurnya dan segera manyerang Rahwana. melalui perkelahian
sengit Arjuna berhasil mengalahkan Rahwana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar